Haji Ngoboy: Hajian Tanpa Tasreh, Apa Pendapat Ulama?

Posted on Posted in Bimbingan

Banyak jalan menuju Roma, sebagaimana banyak cara menuju Makkah untuk hajian.

Dengan modal nekad dan irit biaya, sebagian orang, baik Saudi maupun ekspatriat, berangkat haji tanpa mengikuti peraturan yang dibuat pemerintah Arab Saudi.

Di antara peraturan yang ditetapkan di Saudi adalah setiap jemaah harus dibekali tasreh (surat izin) hajian untuk bisa melaksanakan rukun Islam ke-5 tersebut.

Sebagian orang mempermasalahkan kebijakan tersebut, karena syah tidaknya hajian bukan ditentukan dengan tasreh. Sampai ada yang menggiring ke contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang hajian tanpan tasreh?!

Pembahasan tasreh hajian tidak terjadi di kalangan masyarakat awam, tetapi juga dijelaskan oleh ulama. Berikut pendapat beberapa ulama terkait tasreh haji:

Syaikh Sholeh Fauzan Abdullah Al-Fauzan
Hajian tanpa tasreh, hajinya shohih, tetapi dia berbuat dosa karena melanggar peraturan yang dibuat Wali Amr (pemerintah), yang mana peraturan tersebut dibuat untuk kebaikan masyarakat dan jemaah haji.

Taat kepada pemerintah adalah wajib, karena untuk kebaikan masyarakat, pengaturan jemaah haji. Maka jika hajian tanpa tasreh, hajinya syah, tetapi dia berbuat maksiat dalam hajinya.

Syaikh Khalid Abdullah al-Muslih
Haji tanpa tasreh melanggar peraturan yang telah dibuat pemerintah.

Allah Ta’ala berfirman: ““Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. …” (QS. An-Nisa[4]:59).

Dalam Shohihain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mentaatiku maka dia mentaati Allah, dan barangsiapa durhaka kepadaku maka diapun durhaka kepada Allah. Dan barangsiapa mentaati pemimpin maka dia telah mentaati aku. Dan barangsiapa yang durhaka kepada pemimpin maka dia durhaka kepadaku.”

Ini semua perintah taat dalam kebaikan, atau taat untuk mengatur kemashlahatan. Maka hajian dengan tasreh merupakan bagian dari perkara ini, yang wajib ditaati.

Syaikh Khalid Abdul Mun’im Al-Rifa’i
Hajian tanpa tasreh ada dua keadaan; Pertama, jika haji wajib (pertama kali), seseorang mampu untuk melaksanakan kewajibannya tersebut, akan tetapi tidak mampu mendapatkan tasreh karena beberapa sebab, maka dia boleh berhaji tanpa tasreh.

Karena Allah telah memerintahkan untuk mengerjakan dengan segera, maka tidak ada satupun yang boleh melarang, baik itu individu maupun sekelompok orang.

Kedua, jika hajinya haji nafilah (sudah pernah sebelumnya), mentaati pemerintah lebih wajib daripada berhaji nafilah (sunnah).

Tidak dapat diragukan bahwa tasreh dimaksudkan untuk pengaturan haji yang di dalamnya untuk kebaikan jemaah haji, di antaranya mengatur jumlah jemaah haji agar tidak menimbulkan dampak yang lebih berbahaya.

Islamweb.net
Hajian dikerjakan dengan cara yang sesuai dengan syar’i yang benar, maka syah, dengan tasreh atau tidak. Akan tetapi tidak boleh melanggar peraturan yang dibuat pemerintah, yang di dalamnya untuk pengaturan jemaah haji.

Karena peraturan yang dibuat untuk mengatur masyarakat dan kebaikan jemaah haji, sebagaimana juga yang diperintah syari’at.[]

BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *