Beberapa Fatwa Haji dalam Fiqh Syâfi`î (2)

Posted on Posted in Bimbingan

Pertanyaan: Dalam pendapat yang mu`tamad, bolehkan Nafar Awal sebelum melempar jamarat pada hari tersebut?

Jawaban: Sesungguhnya yang mu`tamad tidak dibolehkan.
======

Pertanyaan: Apakah diperbolehkan ihram seseorang yang mengatakan: “Jika Zaid muhrim sekarang, maka akupun telah muhrim” secara mutlak atau tidak dibolehkan, karena ada penggantungan (dengan perbuatan orang lain). Sebagaimana kalau ia berkata: “Jika ia muhrim maka aku telah muhrim” dan ternyata ia (yang disebutkan) tidak muhrim.

Jawaban: Bahwa penggantungannya itu ada dalam asal ihram. “Jika Zaid muhrim” dan orang yang jadi penggantung ini (Zaid) ternyata muhrim, maka orang yang bicarapun muhrim. Jika tidak, maka tidak pula. Seperti ia berkata, “Kalau dia muhrim, maka aku telah muhrim.”
=====

Pertanyaan: Bolehkah orang bertawaf sambil telungkup di atas perutnya, atau berbaring di atas punggungnya, sedangkan Ka`bah ada di sebelah kirinya?

Jawaban: Bahwa thawafnya itu sah. Apalagi jika ada uzur. Walaupun sebagian mutaakhirin mengatakan sebaliknya.
=====

Pertanyaan: Apakah orang yang mewakili untuk melempar jamarat harus melempar jamarat untuk dirinya sendiri dahulu 3x, atau cukup baginya melempar jamarat atas nama yang diwakilinya saja, dan demikianlah?

Jawaban: Ia wajib untuk mulai melempar jamarat untuk dirinya sendiri 3x, lalu setelahnya atas nama yang diwakilinya.
=====

Pertanyaan: Apakah orang yang luka parah (mengalir deras darahnya) disamakan dengan perempuan haidh untuk meninggalkan Thawaf Wada`, sebagaimana ia disamakan hukumnya dalam keharaman untuk melintasi Masjidil Haram. Jika Anda berpendapat seperti itu, lalu ada perbedaan di dalamnya antara orang yang darahnya berhenti mengalir sebelum meninggalkan batasan kota Makkah atau setelahnya?

Jawaban:
Bahwa yang disamakan dengan perempuan haidh dalam hukumnya, adalah perempuan nifas dan yang istihadhah, jika ia meninggalkan Makkah pada saat haidh. Dan seperti itu juga orang yang dikhawatirkan akan mengotori Masjidil Haram, seperti yang mempunyai luka yang mengalir deras.
=====

Pertanyaan:
Tentang orang yang suatu malam berniat melakukan 2 raka`at thawaf bersamaan dengan niat shalat sunnah yang lain, seperti sunnah Isya` dan tahiyyatul masjid. Apakah disunnahkan membacanya dengan jahr bacaannya untuk mengikuti sunnah Isya’ dan tahiyatul masjid, atau membaca dengan sirr mengikuti sunnah thawaf?

Jawaban:
Hendaknya membacanya dengan pertengahan antara jahr dengan sirr, untuk menjaga sunnah semuanya.
=====

Pertanyaan:
Haruskah seseorang mengulangi Thawaf Wada`, Jika setelahnya ia berlama-lama berdoa di Multazam? Atau tidak harus mengulanginya, karena diperintahkan untuk berdoa di Multazam?

Jawaban:
Ia tidak perlu mengulanginya.
=====

Pertanyaan:
Apakah yang mu`tamad itu wajib bermalam di Muzdalifah, sebagaimana dikatakan dalam Syarh Al-Minhâj, atau tidak wajib sebagaimana dikatakan dalam kitab lain.

Jawaban:
Bahwa yang mu`tamad adalah cukup melewatinya, sepertj Wukuf Arafah, sebagaimana ditegaskan banyak orang.
Al-Adzra`i berkata, bahwa cukup dengan hadir di Muzdalifah sesaat pada paruh kedua malam, sebagaimana disebutkan dalam Al-Umm.

📖 Al-Fatâwâ Al-Kubra Al-Fiqhiyyah, Ibnu Hajar Al-Makki Al-Haitami, 2/89-92

*) Dinukil dari FB Ustadz Danni Nursalim Harun

BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *