Beberapa Fatwa Haji dalam Fiqh Syâfi`î (1)

Posted on Posted in Bimbingan

Beberapa Fatwa Haji dalam Fiqh Syâfi`î

Pertanyaan: Orang yang disewa untuk menghajikan orang lain, apakah kedua orang tuanya boleh melarangnya, sebagaimana mereka boleh melarangnya untuk haji sunnah, atau tidak?

Jawaban: Jika upah yang disepakati melebihi biaya perjalanannya, maka keduanya tidak boleh melarangnya, sebagaimana mereka berdua tidak berhak melarangnya pergi berdagang. Jika tidak melebihi, maka keduanya atau salah satunya berhak untuk melarangnya.
=====

Pertanyaan: Orang yang shalat Shubuh di Makkah, apakah lebih baik baginya diam berdzikir sampai datang waktu shalat 2 raka`at, atau lebih baik berthawaf?

Jawaban: Lebih baik baginya berthawaf.
=====

Pertanyaan:
Orang yang berthawaf sedangkan pakaiannya di atas syadzarwan, apakah thawafnya sah?

Jawaban: Ya, thawafnya sah.

*Syadzarwan: bangunan kecil di bawah dinding Ka`bah (sekarang berwarna putih dan ada ring untuk memasang kiswah), dibuat untuk menguatkan dinding Ka`bah. Jika seseorang berthawaf di atasnya. (menginjaknya) maka thawafnya tidak sah.
=====

Pertanyaan: Orang yang sa`i sambil berjalan mundur, apakah sa`inya sah?

Jawaban: Iya, sa`inya sah.
======

Pertanyaan: Apakah disunnahkan niat untuk sa`i?

Jawaban: Ya, disunnahkan. Bahkan pendapat lain mengatakan bahwa itu syarat untuk Sa`i.
======

Pertanyaan: Tentang perkataan An-Nawawi, apakah Thawaf Qudum gugur karena diakhirkan, ada dua pendapat, sebagaimana diceritakan Imam Al-Haramain. Apa pendapat yang mu`tamad dari keduanya?

Jawaban:
Pendapat yang mu`tamad adalah tidak gugur. Thawaf Qudum tidak gugur karena diakhirkan.

Oleh karena itu jika ia sampai ke Masjidil Haram, sedangkan ia tertinggal shalat, atau mendapatkan orang-orang sedang shalat fardhu, atau ia takut tertinggal shalat fardhu atau shalat sunnah muakkadah, maka itu didahulukan daripada Thawaf Qudum. Bahkan jika shalat wajib didirikan ketika ia sedang Thawaf Qudum, maka shalat didahulukan.

Dianjurkan bagi perempuan cantik, atau perempuan bangsawan, atau khuntsa, untuk mengakhirkan Thawaf Qudum sampai malam. Orang yang punya uzur (untuk Thawaf Qudum) lebih dulu menghilangkan uzurnya.
======

Pertanyaan: Bolehkah ia berthawaf selama 2 minggu atau lebih dengan satu niat saja untuk thawaf sunnah?

Jawaban:  Niat mutlak itu hanya berlaku untuk satu minggu saja.
======

Pertanyaan: Apakah disunnahkan mencium tangan ketika memberi isyarat ke Rukun Yamani, ketika tidak mampu menyentuhnya?

Jawaban: Ya, disunnahkan.

📖 Al-Fatâwâ Al-Kubra Al-Fiqhiyyah, Ibnu Hajar Al-Makki Al-Haitami (W. 974 H), 2/86-87.

*) Dinukil dari FB Ustadz Danni Nursalim Harun

BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *