Siapa Saja yang Wajib Berhaji?

Posted on Posted in Bimbingan

Hukum menunaikan ibadah haji telah jelas sebagai kewajiban yang harus ditunaikan sebagai rukun Islam yang kelima. Akan tetapi kewajiban tersebut terikat dengan sifat dan kondisi tertentu. Di antara yang wajib menunaikannya sebagai berikut:

1. Muslim

Seluruh ibadah, termasuk berhaji, tidak diwajibkan kepada siapapun kecuali seorang muslim, karena seorang kafir tidak diterima amal ibadahnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS. Taubah ayat 54).

Oleh karena itu, Islam merupakan syarat untuk setiap ibadah. Jika dikatakan bahwa ibadah tidak diwajibkan kepada seorang kafir, maka bukan berarti dia tidak akan dihukum karena hal tersebut. Akan tetapi tidak diperintakan untuk beribadah karena kekafirannya dan tidak diperintahkan untuk men-qodhonya setelah masuk Islam.

Adapun seorang muslim dengan ibadahnya terbadi dalam tiga kondisi:

  1. Sebuah perintah untuk dikerjakan
  2. Sebuah perintah untuk di-qodho (ditunaikan kemudian karena meninggalkan)
  3. Berdosa

Poin pertama dan kedua di atas, tidak ditujukan kepada seorang kafir, akan tetapi dosa yang membuatnya dihukum (diadzab) karena meninggalkan kedua hal tersebut.

2. Merdeka

Seorang merdeka bukan hamba sahaya atau budak, merupakan syarat kedua atas wajibnya berhaji.

3. Mukallaf

Mukallaf adalah serang yang cukup umur (baligh) dan berakal. Ini merupakan syarat ketiga akan tetapi meliputi dua syarat sebelumnya. Maka seorang anak kecil meskipun muslim dan merdeka, tetapi belum wajib baginya untuk berhaji. Akan tetapi jika seorang anak kecil muslim dan merdeka berhaji, maka hajinya syah, sebagaimana riwayat seorang wanita mengangkat seorang anak kecil kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Apakah ada haji bagi anak ini?” Beliau menjawab, “Ya dan bagimu pahalanya.” (HR Muslim no. 1336).

Adapun seorang gila (majnun), tidak ada kewajiban baginya untuk berhaji dan tidak syah jika berhaji, meskipun usianya sudah baligh. Hal ini dikarenakan seorang yang gila tidak berakal, sementara haji merupakan amalan badan yang memiliki maksud.

4. Mampu

Ini merupakan syarat kelima atas wajibnya seorang berhaji. Mampu dimaksudkan secara harta dan fisik. Jika memiliki kedua kemampuan dalam dua hal ini, maka wajib melaksanakan haji oleh dirinya sendiri.  Tetapi jika fisiknya lemah tetapi memiliki kemampuan dalam harta, maka wajib melaksanakan haji dengan diwakilkan.

*) Disarikan dari kitab al-Syarhu al-Mumthii’ ala Zaadi al-Mustaqni’ oleh Syaikh Muhammad Sholeh al-Utsaimin, rahimahullahu, al-mujallad 7, bab Manasik.

BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *