Haji Itu Ibadah, Bukan Kursus Singkat Bersertifikat

Posted on Posted in Bimbingan

Di antara pilar ibadah dalam agama Islam adalah niat yang ikhlas dan mengikuti petunjuk (sunnah) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua hal ini sangat penting diperhatikan, jika tidak terdapat salah satunya pada diri seseorang, bisa jadi gugur nilai ibadahnya.

Di ayat terakhir dari surah Al-Kahfi yang berbunyi:

فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢ

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya

Para ulama tafsir memahami ayat di atas sebagai tuntutan amalan yang harus sesuai dengan syariat Allah dan merasa riya dalam amalannya, bahkan hendaknya dia beramal ikhlas mengharapkan wajah Allah semata.

***

Realitanya, sebagian masyarakat Indonesia yang diberi nikmat beribadah haji, melupakan kedua pilar ibadah yang sangat penting tersebut. Sebagian orang setelah kembali hajian, namanya harus dibumbui huruf “H”, jika dipanggil tidak menoleh kecuali diawali dengan “Pak Haji…” atau “Bu Hajjah…”. Uniknya, ada juga yang minta sertifikat haji sebagai pertanda dirinya telah menunaikan rukun Islam yang kelima.

Kalau saja itu baik, tentunya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam, para sahabatnya dan orang-orang terdahulu lebih pantas bergelar “Haji…..” atau “Hajjah….”. Pun, tidak didapati ulama di 4 madzhab yang membuat prasasti semacam sertifikat setelah kembali dari berhaji.

Hal-hal demikian, hendaknya kita tinggalkan, karena dikuatirkan menjadi riya, tidak ikhlas dalam amal ibadahnya, dan menyelisihi sunnah.

BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *