Haji “Syubrumah”

Posted on Posted in Bimbingan

Bagi yang akan menghajikan (mewakili/badal) orang lain, maka harus sudah pernah melakukan haji atau umrah untuk dirinya. Hal ini berdasarkan berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliu berkata:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- سَمِعَ رَجُلاً يَقُولُ لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ. قَالَ « مَنْ شُبْرُمَةَ ». قَالَ أَخٌ لِى أَوْ قَرِيبٌ لِى. قَالَ « حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ ». قَالَ لاَ. قَالَ « حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ ».

Artinya: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar seorang laki-laki berkata: “Labbaika ‘an Syubrumah (Aku memenuhi panggilanMu atas nama Syubrumah”, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Siapa Syubrumah?”, laki-laki itu menjawab: “Saudaraku atau kerabatku”, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sudah berhajikah kamu?”, laki-laki menjawab: “Belum”, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berhajilah atas dirimu kemudian hajikan atas Syubrumah”. HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani kitab Irwa Al Ghalil, 4/171.

Syarat orang yang dihajikan atau diumrahkan atasnya:

1. Orang yang sudah meninggal dunia
Hal ini berdasarkan hadits:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّى نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَمَاتَتْ قَبْلَ أَنْ تَحُجَّ أَفَأَحُجَّ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ حُجِّى عَنْهَا ، أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ » . قَالَتْ نَعَمْ . فَقَالَ « فَاقْضُوا الَّذِى لَهُ ، فَإِنَّ اللَّهَ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ » .

Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa: “Seorang wanita mendatangi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata: “Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk berhaji, lalu beliau meninggal sebelum menunaikan haji, bisakah aku menunaikan atasnya haji?”, beliau menjawab: “Iya, hajikanlah atasnya, bukankah jika ibumu mempunyai hutang kamu akan membayarnya?”, wanita ini menjawab: “Iya”, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maka bayarlah, karena sesungguhnya Allah lebih berhak untuk dibayar”. HR. Bukhari.

2. Orang yang sudah tidak mampu untuk menunaikan haji karena sangat tua dan sakit yang terus menerus dan tidak memungkinkan baginya untuk menunaikan haji.

عنِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – قَالَ أَرْدَفَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْفَضْلَ بْنَ عَبَّاسٍ يَوْمَ النَّحْرِ خَلْفَهُ عَلَى عَجُزِ رَاحِلَتِهِ ، وَكَانَ الْفَضْلُ رَجُلاً وَضِيئًا ، فَوَقَفَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – لِلنَّاسِ يُفْتِيهِمْ ، وَأَقْبَلَتِ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ وَضِيئَةٌ تَسْتَفْتِى رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَطَفِقَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا ، وَأَعْجَبَهُ حُسْنُهَا ، فَالْتَفَتَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَنْظُرُ إِلَيْهَا ، فَأَخْلَفَ بِيَدِهِ فَأَخَذَ بِذَقَنِ الْفَضْلِ ، فَعَدَلَ وَجْهَهُ عَنِ النَّظَرِ إِلَيْهَا ، فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ فِى الْحَجِّ عَلَى عِبَادِهِ أَدْرَكَتْ أَبِى شَيْخًا كَبِيرًا ، لاَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْتَوِىَ عَلَى الرَّاحِلَةِ ، فَهَلْ يَقْضِى عَنْهُ أَنْ أَحُجَّ عَنْهُ قَالَ « نَعَمْ » .

Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Al Fadhl bin Abbas pernah dibonceng oleh Rasululah shallallahu ’alaihi wasallam pada hari Nahr (tanggal 10 Dzulhijjah) di atas hewan tunggangan beliau yang tua, Al Fadhl adalah seorang lelaki yang tampan, lalu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berhenti untuk memberi fatwa kepada mereka (yang bertanya), lalu datanglah seorang wanita cantik dari Khats’am meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kewajiban Allah atas hambanya di dalam perkara haji telah di dapati oleh bapakku yang dalam keadaan sangat tua, beliau tidak sanggup untuk duduk di atas kendaraan, bolehkah aku menghajikan atas namanya?”, beliau menjawab: Artinya: “(iya) hajikanlah atasnya”. HR. Bukhari.

عَنْ أَبِى رَزِينٍ – قَالَ حَفْصٌ فِى حَدِيثِهِ رَجُلٌ مِنْ بَنِى عَامِرٍ – أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِى شَيْخٌ كَبِيرٌ لاَ يَسْتَطِيعُ الْحَجَّ وَلاَ الْعُمْرَةَ وَلاَ الظَّعْنَ. قَالَ « احْجُجْ عَنْ أَبِيكَ وَاعْتَمِرْ ».

Artinya: “Abu Razin radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya bapakku adalah orang yang tua renta, tidak mampu haji dan umrah serta tidak bisa menunggai kendaraan, Nabi bersabda: “Haji dan umrahkanlah atas bapakmu”. HR. Abu Daud dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Abu Daud, no. 1588.

Nasehat bagi yang menghajikan orang lain
1. Tunaikanlah amanat orang lain

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tunaikan amanah kepada siapa yang berhak mendapakatnya dan janganlah kamu khianati orang yang mengkhianatimu.” HR. Abu Daud dan dishahihkan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 423.

وقال في خطبته في حجة الوداع : (( وَمَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ أَمَانَةٌ فَلْيُؤَدِّهَا إِلَى مَنِ ائْتَمَنَهُ عَلَيْهَا ))

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah pada haji Wada’: “Dan Barangsiapa yang memiliki amanah maka hendaklah ia menunaikan kepada yang berhak mendapatnya”. HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Fikh As Sirah, 1/456.

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ : الْقَتْلُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ يُكَفِّرُ كُلَّ ذَنْبٍ إِلاَّ الأَمَانَةَ يُؤْتَى بِصَاحِبِهَا وَإِنْ كَانَ قُتِلَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَيُقَالَ لَهُ : أَدِّ أَمَانَتَكَ فَيَقُولُ : رَبِّ ذَهَبَتِ الدُّنْيَا فَمِنْ أَيْنَ أُؤَدِّيهَا فَيَقُولُ : اذْهَبُوا بِهِ إِلَى الْهَاوِيَةِ حَتَّى إِذَا أُتِىَ بِهِ إِلَى قَرَارِ الْهَاوِيَةِ مَثُلَتْ لَهُ أَمَانَتُهُ كَيَوْمِ دُفِعَتْ إِلَيْهِ فَيَحْمِلُهَا عَلَى رَقَبَتِهِ يَصْعَدُ بِهَا فِى النَّارِ حَتَّى إِذَا رَأَى أَنَّهُ خَرَج مِنْهَا هَوَتْ وَهَوَى فِى أَثَرِهَا أَبَدَ الآبِدِينَ وَقَرَأَ عَبْدُ اللَّهِ (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنَّ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا)

Artinya: “Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Terbunuh di jalan Allah menghapuskan dosa seluruh dosa kecuali perkara amanah (yang belum ditunaikan) akan didatangkan orang yang diamanati, jika dia meninggal di jalan Allah, maka akan dikatakan kepada dia: “Tunaikan amanatmu”, dia menjawab: “Wahai Rabbku, telah sirna dunia, maka darimana aku akan menyampaikannya”, (Allah) berfirman: “pergilah ke neraka Hawiyah, sampai jika dibawa ke tepi neraka Hawiyah, dimisalkan baginya amanahnya sebagaimana hari dia diberikan amanat itu, lalu diletakkan di atas pundakknya, dia menaiki dengannya di dalam neraka sampai jika ia meras dirinya telah keluar darinya, jatuh amanah dan setelahnya jatuh dia ke dalamnya untuk selama-lamanya, kemudian Abdullah membaca ayat:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنَّ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya”. QS. An Nisa: 58. Atsar riwayat Al Baihaqi dan dihasankan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih At Targhib Wa At Tarhib, no. 2995.

عَنْ أَبِى مُوسَى الأَشْعَرِىِّ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – « الْخَازِنُ الأَمِينُ الَّذِى يُؤَدِّى مَا أُمِرَ بِهِ طَيِّبَةً نَفْسُهُ أَحَدُ الْمُتَصَدِّقَيْنِ » .

Artinya: “Abu Musa Al Asy’ary radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang Penjaga amanah yang menunaikan apa yang diperintahkan atasnya dengan jiwa baik, maka dia termasuk seorang yang bersedekah”. HR. Bukhari.

2. Kerjakan dengan maksimal yaitu dengan melengkapi syarat, rukun dan kewajiban serta hal-hal yang disunnahkan
Jika seseorang diberi amanah untuk menghajikan orang lain, maka hendaklah dia menghajikan orang lain tersebut dengan maksimal, melengkapi seluruh hal yang merupakan kewajiban dan rukun.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا : أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم قَالَ : إِنَّ الله يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ.

Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai jika salahsatu dari kalian melakukan amalan dan ia melakukannya dengan maksimal.” HR. Al Baihaqy dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 1880.

3. Mengambil harta agar dapat menunaikan haji dan membantu orang lain, bukan haji untuk mengambil harta dan keuntungan. Coba perhatikan perkataan-perkataan para ulam berikut:

Syeikhul Islam rahimahullah menjawab pertanyaan tentang seorang wanita yang berhaji dan berniat untuk menghaji seorang yang sudah meninggal dengan upah, maka apakah boleh bagi wanita ini untuk berhaji:

يَجُوزُ أَنْ تَحُجَّ عَنْ الْمَيِّتِ بِمَالِ يُؤْخَذُ عَلَى وَجْهِ النِّيَابَةِ بِالِاتِّفَاقِ . وَأَمَّا عَلَى وَجْهِ الْإِجَارَةِ فَفِيهِ قَوْلَانِ لِلْعُلَمَاءِ هُمَا رِوَايَتَانِ عَنْ أَحْمَد : إحْدَاهُمَا يَجُوزُ وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ . وَالثَّانِي لَا يَجُوزُ وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ . ثُمَّ هَذِهِ الْحَاجَّةُ عَنْ الْمَيِّتِ إنْ كَانَ قَصْدُهَا الْحَجَّ أَوْ نَفْعَ الْمَيِّتِ كَانَ لَهَا فِي ذَلِكَ أَجْرٌ وَثَوَابٌ وَإِنْ كَانَ لَيْسَ مَقْصُودُهَا إلَّا أَخْذَ الْأُجْرَةِ فَمَا لَهَا فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ .

Artinya: “Boleh bagi si wanita ini untuk berhaji dengan harta yang diambil dari sisi perwakilan, dengan kesepakatan (para ulama-pen), adapun mengambil harta dari sisi upah maka di dalamnya terdapat dua pendapat dari para ulama; keduanya adalah dau riwayat dari pendapatnya Imam Ahmad; salah satunya adalah boleh dan ini pendapatnya imam Asy Syafi’ie dan yang kedua tidak boleh dan ini adalah pendapatnya Imam Abu hanifah, kemudian wanita yang menghajikan atas mayat ini, jika tujuannya adalah haji atau memberikan menolong si mayat, maka niscaya baginya pada demikian itu pahala dan ganjaran, tetpi jika tujuannya tidak ada kecuali mengambil upah maka wanita ini tidak mendapatkan bagiannya di akhirat.” Lihat kitab Majmu’ Al Fatawa, 26/18.

beliau juga pernah menjawab pertanyaan tentang seorang yang mengahjikan orang lain untuk membayar hutangnya:

أَمَّا الْحَاجُّ عَنْ الْغَيْرِ لِأَنْ يُوَفِّيَ دَيْنَهُ فَقَدْ اخْتَلَفَ فِيهَا الْعُلَمَاءُ أَيُّهُمَا أَفْضَلُ . وَالْأَصَحُّ أَنَّ الْأَفْضَلَ التَّرْكُ . فَإِنَّ كَوْنَ الْإِنْسَانِ يَحُجُّ لِأَجْلِ أَنْ يَسْتَفْضِلَ شَيْئًا مِنْ النَّفَقَةِ لَيْسَ مِنْ أَعْمَالِ السَّلَفِ حَتَّى قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَد : مَا أَعْلَمُ أَحَدًا كَانَ يَحُجُّ عَنْ أَحَدٍ بِشَيْءِ . وَلَوْ كَانَ هَذَا عَمَلًا صَالِحًا لَكَانُوا إلَيْهِ مُبَادِرِينَ وَالِارْتِزَاقُ بِأَعْمَالِ الْبِرِّ لَيْسَ مِنْ شَأْنِ الصَّالِحِينَ . أَعْنِي إذَا كَانَ إنَّمَا مَقْصُودُهُ بِالْعَمَلِ اكْتِسَابَ الْمَالِ وَهَذَا الْمَدِينُ يَأْخُذُ مِنْ الزَّكَاةِ مَا يُوَفِّي بِهِ دَيْنَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَقْصِدَ أَنْ يَحُجَّ لِيَأْخُذَ دَرَاهِمَ يُوَفِّي بِهَا دَيْنَهُ وَلَا يُسْتَحَبُّ لِلرَّجُلِ أَنْ يَأْخُذَ مَالًا يَحُجُّ بِهِ عَنْ غَيْرِهِ إلَّا لِأَحَدِ رَجُلَيْنِ : إمَّا رَجُلٌ يُحِبُّ الْحَجَّ وَرُؤْيَةَ الْمَشَاعِرِ وَهُوَ عَاجِزٌ . فَيَأْخُذُ مَا يَقْضِي بِهِ وَطَرَهُ الصَّالِحَ وَيُؤَدِّي بِهِ عَنْ أَخِيهِ فَرِيضَةَ الْحَجِّ . أَوْ رَجُلٌ يُحِبُّ أَنْ يُبَرِّئَ ذِمَّةَ الْمَيِّتِ عَنْ الْحَجِّ إمَّا لِصِلَةِ بَيْنَهُمَا أَوْ لِرَحْمَةِ عَامَّةٍ بِالْمُؤْمِنِينَ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَيَأْخُذُ مَا يَأْخُذُ لِيُؤَدِّيَ بِهِ ذَلِكَ . وَجِمَاعُ هَذَا أَنَّ الْمُسْتَحَبَّ أَنْ يَأْخُذَ لِيَحُجَّ لَا أَنْ يَحُجَّ لِيَأْخُذَ وَهَذَا فِي جَمِيعِ الْأَرْزَاقِ الْمَأْخُوذَةِ عَلَى عَمَلٍ صَالِحٍ فَمَنْ ارْتَزَقَ لِيَتَعَلَّمَ أَوْ لِيُعَلِّمَ أَوْ لِيُجَاهِدَ فَحَسَنٌ .

“Adapun menghajikan atas orang lain untuk melunasi hutangnya, maka para ulama telah berbeda pendapat di dalamnya, manakah yang lebih utama. Dan pendapat yang lebih benar adalah meninggalkan perbuatan itu, karena sesungguhnya seorang yang berhaji untuk untuk mengambil sesuatu keuntungan dari nafkah bukan dari perbuatan para ulama terdahulu sampai Imam Ahmad berkata: “Aku tidak mengetahui seorang yang menghajikan orang lain dengan (mengambil) sesuatu. Kalau saja amalan ini termasuk amal yang baik niscaya mereka akan berlomba-lomba melakukannya, dan mengambil keuntungan dari melakukan amal-amal baik bukan kebiasaan orang-orang shalih, yang saya maksudkan adalah jika tujuannya dari amalan tersebut adalah mengambil harta, dan seorang yang berhutang ini mengambil harta zakat agar dapat melunasi hutangnya lebih baik daripada ia menghajikan orang lain untuk mengambil harta agar ia melunasi hutangnya. Dan tidak dianjurkan seseorang mengambil harta untuk menghajikan orang lain kecuali untuk salah satu dari dua orang ini; seorang yang ingin berhaji dan melihat tempat-temapt suci (ketika haji) tetapi ia tidak mampu, maka ia boleh mengambil dari orang lain untuk keperluan/niat baiknya dan ia menghajiakan atas nama saudaranya, atau seseorang ingin membebaskan dari si mayat beban haji, baik karena ia mempunyai hubungan kerabat dengan si mayat atau karena kasih sayar yang umum kepada kaum beriman atau yang semisalnya, maka ia boleh mengambil sesuatu yang dengannya ia bisa melakukan itu. Dan ungkapan yang mengumpulkan (masalah) ini adalah bahwa yang dianjurkan adalah mengambil (harta) untuk berhaji bukan berhaji untuk mengambil/mengeruk (keuntungan) dan hal ini juga dalam seluruh rezeki yang diambil atas sebuah amal shalih, maka barangsiap yang mengambil harta untuk belajar atau mengajar atau berjihad maka itu baik.” Lihat kitab Majmu’ Al Fatawa, 26/17.

Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah menjawab ketika ditanya tentang seseorang yang berhaji karena ingin uang atau harta?

إن الإنسان إذا حج للدنيا لأخذ الدراهم فإن هذا حرام عليه، ولا يحل له أن ينوي بعمل الآخرة شيئاً من الدنيا؛ لقوله تعالى: (مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16) )
وأما إذا أخذ ليحج ليستعين به على الحج فإن ذلك لا بأس به ولا حرج عليه، وهنا يجب على الإنسان أن يحذر من أن يأخذ الدراهم للغرض الأول، فإنه يخشى أن لا يقبل منه، وأن لا يجزىء الحج عمن أخذه عنه، وحينئذ يلزمه أن يعيد النفقة والدراهم إلى صاحبها، إذا قلنا: إن الحج لم يصح ولم يقع عن المستنيب، ولكن يأخذ الإنسان الدراهم والنفقة ليحج بها عن غيره ليستعين بها على الحج، ويجعل نيته في ذلك أن يقضي غرض صاحبه، وأن يتقرب إلى الله تعالى بما يتعبد به في المشاعر وعند بيت الله.

Artinya: “Seorang manusia jika berhaji karena dunia, mengambil keuntungan, maka sesungguhnya ini adalah haram atasnya, dan tidak halal meniatkan pekerjaan akhirat untuk mendapatkan sesuatu dari dunia, hal ini berdasarkan firman-Nya:

{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16) } [هود: 15 – 17]

Artinya: “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” “Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?”. QS. Huud: 15-16.

Lalu beliau berkata setelah menyebutkan perkataan syeikhul islam di atas:
“Adapun untuk jika ia mengambil untuk menolongnya berhaji maka tidak mengapa akan hal itu dan dtidak ada dosa atasnya, dan pada ini seorang manusia harus berhati-hati untuk mengambil harta untuk tujuan pertama, ditakutkan tidak diterima darinya dan tidak sah haji yang ia lakukan atas orang lain, dan dengan demikian ia harus mengembalikan harta dan biaya kepada pemiliknya, jika kita katakana bahwa hajinya tidak sah dan tidak terjadi atas orang yang dihajikan, akan tetapi hendaklah seseorang mengambil harta dan biaya utnuk menghajikan orang lain agar menolongnya dalam haji dan menjadikan niatnya dalam hal ini adalah melaksanakan hajat saudaranya serta hendaknya ia mendekatkan diri kepada Allah dengan apa yang ia lakukan di tempat-tempat suci dan ketika di baitullah.” Lihat kitab Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, 21/158.

Berkata Syeikh Al Allamah Faizan Al Fauzan hafizhahullah:

ولا بأس أن يأخذ المال إذا كان قصده أن يستعين به على الحج، ولم يكن قصده الطمع في المال، وهنا قاعدة يذكرها بعض العلماء مستوحاة من النصوص، وهي : ( من حج ليأخذ؛ فلا يحج، ومن أخذ ليحج؛ فليحج ) ، ومعنى ذلك أن من جعل المال وسيلة للحج؛ فلا بأس، ومن جعل الحج وسيلة للمال؛ فلا يجوز .

Artinya: “Tidak mengapa seseorang mengambil harta jika niatnya untuk menolongnya menunaikan haji, dan bukan niatnya rakus terhadap harta, dan disini terdapat kaedah yang disebutkan oleh sebagian para ulama yang diambilkan dari nash-nash, yaitu: “Barangsiapa yang berhaji untuk mengambil (keuntungan) maka tidak boleh ia berhaji, barangsiapa yang mengambil harta untuk bisa berhaji, maka pergilah ia haji.” Dan maknanya adalah barangsiapa yang menjadikan harta sebagai sarana untuk berhaji, hal ini tidak mengapa, dan barangsiapa yang menjadikan haji sebagai sarana untuk mendapatkan harta maka hal ini tidak boleh. Lihat kitab Al Muntaqa Min Fatawa Al Fauzan. wallahu a’lam. semoga bermanfaat.[]

Sumber: http://www.dakwahsunnah.com/artikel/fiqhsunnah/209-hukum-menghajikan-atau-mengumrahkan-orang-lain-%E2%80%93-untaian-artikel-%E2%80%9Cmenggapai-haji-mabrur%E2%80%9D,-bag-07

BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

One thought on “Haji “Syubrumah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *